Kamis, 13 Juni 2013

Prinsip Dan Indikator Pendekatan CBSA


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang

Dalam kegiatan belajar-mengajar kita tidak lepas dari istilah pendekatan, yang kemudian lebih dikenal dengan pendekatan pembelajaran, namun sebelum itu terlebih dahulu kita harus mengetahui makna dari pendekatan, mengingat ini dasar kita seterusnya dalam mendalami materi ini. Pendekatan (approach) memiliki pengetahuan yang berbeda dengan strategi (sanjaya wina, 2007), pendekatan bersifat filosofis paradigmatik ,yang mendasari aplkasi strategi dan metode. Pendekatan adalah pola/cara berpikir atau dasar pandangan terhadap sesuatu. Pendekatan dapat diimplementasikan dalam sejumlah strategi. Sedangkan, strategi adalah pola umum perbuatan guru-siswa di dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar. Strategi dapat diimplementasikan dalam beberapa metode. Pendekatan adalah titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran atau imerupakan gambaran pola umum perbuatan guru dan peserta didik di dalam perwujudan kegiatan pembelajaran. Sedangkan strategi sendiri merupakan pola umum perbuatan guru peserta didik di dalam perwujudan kegiatan pembelajaran. Pendekatan merupakan dasar penentuan strategi yang akan diwujudkan dengan penentuan metode sedangkan metode merupakan alat yang digunakan dalam pelaksanaan strategi pembelajaran.jadi pendekatan lebih luas cakupanya dibandingkan dengan strategi. Untuk lebih jelasnya, selanjutnya akan dibahas mengenai rasional, pengertian, prinsip, dan indikator pendekatan cara belajar siswa aktif (cbsa),  pengertian pendekatan konsep dan pendekatan proses, pengertian pendekatan  deduktif dan pendekatan induktif dalam bab pembahasan.     

1.2  Rumusan masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan prinsip pendekatan cbsa ?
2.      Bagaimana mengtahui indikator dalam penerapan pendekatan cbsa ?

1.3  Tujuan masalah
1.      Mengetahui prinsip pendekatan cbsa.
2.      Mengetahui indikator dalam pendekatan cbsa.
1.4  Manfaat
1.      Dapat mengetahui prinsip pendekatan cbsa
2.      Dapat mengetahui indicator pendekatan cbsa


   .

















BAB 2
PEMBAHASAN
2.1    Prinsip pendekatan cbsa

Prinsip cbsa adalah  tingkah laku belajar yang mendasarkan pada kegiatan-kegiatan yang nampak, yang menggambarkan tingkat keterlibatan siswa dalam proses belajar-mengajar baik intelektual-emosional maupun fisik. Prinsip-prinsip cbsa yang nampak pada 4 dimensi sebagai berikut:
A.   Dimensi subjek didik :
Dimensi subjek didik, meliputi:
1.      Keberanian mewujudkan minat, keinginan, pendapat serta dorongan-dorongan yang ada pada siswa dalam proses belajar-mengajar. Keberanian tersebut terwujud karena memang direncanakan oleh guru, misalnya dengan format mengajar melalui diskusi kelompok, dimana siswa tanpa ragu-ragu mengeluarkani pendapat.
2.       keberanian untuk mencari kesempatan untuk berpartisipasi dalam persiapan maupuntindak lanjut dan suatu proses belajar-mengajar maupun tindak lanjut dan suatu proses belajar mengajar. Hal ini terwujud bila guru bersikap demokratis.
3.       kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu keberhasilan tertentu yang memang dirancang oleh guru.
4.      Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu keberhasilan tertentu, yang memang dirancang oleh guru.
5.       peranan bebas dalam mengerjakan sesuatu tanpa merasa ada tekanan dan siapapun termasuk guru.
B.   Dimensi guru
Dimensi guru, meliputi:
1.      Adanya usaha dan guru untuk mendorong siswa dalam meningkatka kegairahan serta partisipasi siswa secara aktif dalam proses belajar-mengajar.
2.       kemampuan guru dalam menjalankan peranannya sebagai inovator dan motivator.
3.      Sikap demokratis yang ada pada guru dalam proses belajar-mengajar.
4.      Pemberian kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan cara serta tingkat kemampuan masing-masing.
5.      Kemampuan untuk menggunakan berbagai jenis strategi belajar-mengajar serta penggunaan multi media. Kemampuan mi akan menimbulkan lingkuñgan belajar yang merangsang siswa untuk mencapai tujuan.
C.   Dimensi program
Dimensi program, meliputi:
1.      Tujuan instruksional, konsep serta materi pelajaran yang memenuhi kebutuhan, minat serta kemampuan siswa; merupakan suatu hal yang sangat penting diperhatikan guru.
2.      Program yang memungkinkan terjadinya pengembangan konsep maupun aktivitas siswa dalam proses belajar-mengajar.
3.      Program yang fleksibel (luwes); disesuaikan dengan situasi dan kondisi.
D. Dimensi situasi belajar-mengajar
Dimensi situasi belajar-mengajar, meliputi:
1.    Situasi belajar yang menjelmakan komunikasi yang baik, hangat, bersahabat, antara guru-siswa maupun antara siswa sendiri dalam proses belajar-mengajar.
2.    Adanya suasana gembira dan bergairah pada siswa dalam proses belajar-mengajar.

Dalam bukunya (conny semiawan, dkk, 1985: 9-13; sulo lipu la sulo, dkk, 2002: 11)[1] terdapat sejumlah prinsip belajar yang harus diperhatikan agar proses belajar itu dapat berhasil dengan efisien (berdaya guna) dan efektif (berhasil guna). Prinsip-prinsip tersebut dilandasi penelitian dalam psikologi belajar dan diujicobakan dalam pembelajaran. Prinsip-prinsip belajar tersebut dapat dijadikan titik tolak untuk meningkatkan derajat keterlibatan murid dalam pembelajaran. Prinsip-prinsip adalah sebagai berikut:
1.      Prinsip motivasi yakni penumbuhan motivasi belajar, baik motivasi intrinsik (motif yang menjadi bagian dari prilaku belajar: rasa ingin tahu) maupun motivasi ekstrinsik (diluar prilaku belajar: ingin hadiah dari orang tua). Guru hendaknya menjadi motivator yakni berusaha menumbuhkan motivasi belajar, utamanya motivasi intrinsik dalam belajar.
2.      Prinsip latar atau konteks yakni memposisikan pengalaman belajar baru yang akan/sedang dilakukan diantara pengalaman belajar yang telah menjadi miliknya (pengetahuan/pemahaman, nilai/sikap, dan atau ketrampilan yang telah dikuasai). Dengan pemberian kaitan (termasuk apersepsi), pengalaman belajar yang baru akan manjadi bagian dari struktur kognitif, baik melalui asimilasi (pembauran) maupun akomodasi (penempatan).
3.      Prinsip fokus yakni keterarahan kepada suatu titik pusat perhatian yang dapat dilakukan dengan cara merumuskan masalah yang hendak dipecahkan, pertanyaan yang hendak dijawab, konsep yang akan ditemukan, dsbnya. Titik fokus ini hendaknya menjadi pusat perhatian murid dan dapat mengaitkan atau menghubungkan seluruh bahan yang sedang dipelajari dengan khasanah kognitif yang telah ada.
4.      Prinsip sosialisasi (hubungan sosial) yakni belajar dalam kelompok agar dapat bekerjasama dengan teman sebaya dalam proses pembelajaran itu, seperti diskusi kelompok, kerja kelompok, dsb
5.      Prinsip belajar sambil bekerja, bermain, atau kegiatan lainnya yang sesuai dengan keinginan murid untuk melakukan kegiatan manipulatif.
6.      Prinsip individualisasi yakni penyesuaian kegiatan pembelajaran dengan perbedaan individual murid.
7.       prinsip menemukan yakni dengan pemberian informasi pancingan agar murid terdorong untuk menemukan informasi selanjutnya.
8.      Prinsip pemecahan masalah yakni murid peka untuk menemukan dan atau merumuskan masalah, dan mencari cara pemecahannya

Penerapan berbagai prinsip belajar tersebut di atas dalam pembelajaran di sd-mi akan dapat meningkatkan derajat keterlibatan murid dalam proses pembelajaran, dengan kata lain, derajat pendekatan cbsa lebih tinggi. Untuk mewujudkan hal itu, terdapat beberapa rambu-rambu yang harus diperhatikan guru dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran dan atau pelaksanaan pembelajaran itu. (sulo lipu la sulo, dkk, 2002: 11)[2] antara lain:
1.       mengupayakan variasi kegiatan dan suasana pembelajaran dengan penggunaan berbagai strategi/metode/teknik dalam pembelajaran, seperti variasi pengorganisasian murid dalam pembelajaran (individual, kelompok berpasangan, kelompok kecil, dan atau klasikal), variasi penggunaan metode (ceramah, tanya jawab, penugasan individual/kelompok, diskusi. Dsb).
2.      Menumbuhkan prakarsa murid untuk aktif dan kreatif dalam kegiatan pembelajaran, umpamanya dengan memberi peluang untuk bebas berpendapat (dalam curah pendapat/brainstorming), menghargai pendapat yang berbeda, dsb.
3.      Mengembangkan berbagai pola interaksi dalam pembelajaran, baik antara guru dan murid, maupun antar murid, serta variasi interaksi dengan sumber belajar yang tersedia (cetakan, rekaman, lingkungan sekitar, dsb).
4.      Menyediakan dan menggunakan berbagai sumber belajar, baik yang dirancang (by design: media/alat peraga) maupun yang dimanfaatkan (utilization, sesuatu seperti museum yag ada di sekitar untuk dijadikan sumber belajar).
5.      Pemantauan yang intensif dalam kegiatan pembelajaran dan yang diikuti dengan pemberian balikan yang spesifik dan dengan segera.

Kajian tentang rambu-rambu perwujudan pendekatan cbsa dengan penekanan pada keterlibatan mental, utamanya cognitive engagement, oleh (T. Raka joni 1993: 68-72)[3] ditinjau dari beberapa segi, sebagai berikut:
1)      Dari segi guru, dalam pembelajarannya tertampilkan:
a.       Guru meyediakan pijakan (cognitive anchoring) dan tuntunan (cognitive scaffolding) yang dapat membantu murid memberi makna terhadap pengalaman belajarnya:.
-   pijakan kognitif adalah gagasan dasar bidang studi yang sedang dipelajari yang berfungsi sebagai pengait antara yang sedang dipelajari dengan yang telah diketahui
-  Tuntunan kognitif adalah informasi/bantuan (konseptual, prosedural) tambahan yang diberikan selama pembelajaran berlangsung sebelum murid dilepas dalam kegiatan belajar mandiri;
b.       guru menggunakan beragam kegiatan pembelajaran dengan multi metode/media/dsb sesuai dengan tujuan yang akan dicapai,
c.        guru memberi tugas/kesempatan kepada murid untuk berbuat langsung dalam pembelajaran (mengkaji, berlatih, dll) dan dalam penerapannya.
2)      Dari segi murid, dalam pembelajaran tertampilkan:
a. Murid bertanya/memberi pendapat,
b. Murid secara langsung melakukan pengkajian, pelatihan, dan atau penghayatan dalam situasi sarat nilai,
c. Ada interaksi antar murid, baik yang digiring oleh guru maupun yang spontan,
3)       dari segi pesan-pesan kependidikan: ada keseimbangan antara tujuan pembelajaran dan tujuan yang lebih umum, demi pencapaian tujuan utuh pendidikan.
4)      Dari segi penempatan diri guru dalam pembelajaran, tetap tertampilkan sesuai asas tut wuri handayani.

Perlu ditekankan bahwa penerapan berbagai prinsip belajar serta berbagai rambu-rambu yang harus diperhatikan guru seperti tersebut di atas, memerlukan prasyarat yang berkaitan dengan wawasan kependidikan guru tentang tugasnya, disertai dengan penguasaan yang memadai tentang berbagai strategi, metode, ketrampilan, teknik, dsb di dalam pembelajaran. Pengetahuan yang luas dan mendalam tentang berbagai hal tersebut akan memberi peluang yang besar untuk melakukan berbagai pilihan, sedangkan wawasan kependidikan akan menjadi dasar yang kuat dan tepat atas pilihan-pilihannya itu, baik dari segi teknis pembelajaran maupun dari segi pendidikan. Dengan demikian, setiap keputusan dan tindakan dalam pembelajaran akan menjadi suatu keputusan dan tindakan dalam rangka pembelajaran yang mendidik, suatu pembelajaran yang bukan hanya akan mencapai tujuan pembelajaran, tetapi juga tujuan pedidikan yang lebih.umum.



2.2    Indikator dalam penerapan pendekatan cbsa
Untuk mengetahui apakah penerapan pendekatan cbsa dalam pembelajaran yang sedang berlangsung telah optimal, perlu diamati indikator-indikatornya. Indikator itu adalah gejala-gejala yang nampak dalam prilaku guru dan murid selama pembelajaran berlangsung, serta organisasi kegiatan, iklim, dan alat di dalam pembelajaran itu. Berbagai indikator penerapan pendekatan cbsa itu (T.raka joni, 1983: 22-24; dan 1985: 19-20; sulo lipu la sulo, dkk, 2002:12-13)[4] adalah:
1.       keterlibatan murid dalam pembelajaran, baik keterlibatan fisik maupun yang utama keterlibatan mental, seperti pengikatan diri (tersitanya perhatian dan pikiran) kepada tugas yang dihadapi, penyelesaian tugas secara tuntas yang melebihi dari apa yang diharapkan, tergugahnya emosi oleh suasana yang tersirat dalam pembelajaran, dsb.
2.      Prakarsa murid dalam pembelajaran, seperti keberanian mengemukakan pendapat tanpa diminta, mengemukakan usul dalam penetapan tujuan dan atau cara kerja , kesediaan mencari alat serta sumber belajar tambahan, dan sebagainya.
3.      Peranan guru lebih ditekankan sebagai fasilitator (penyedia dan pengelola fasilitas pembelajaran), pemantau kegiatan pembelajaran, dan selalu siap memberi balikan yang diperlukan murid (siap ulur tangan dan bukannya campur tangan, sesuai prinsip tut wuri handayani). .
4.      Belajar dengan pengalaman langsung (belajar eksperiensial, experiential learning). Belajar eksperiensial dalam ranah kognitif, seperti pengenalan konsep atau prinsip dilakukan dengan peragaan langsung konsep atau prinsip itu, seperti 3x2 diragakan dengan mengambil 3 kali setiap kali 2 biji. Dan pada akhirnya dilakukan kristalisasi verbal tentang konsep itu, baik secara induktif maupn deduktif. Demikian pula dengan ranah afektif (penghayatan melalui situasi nyata ataupun buatan) dan ranah psikomotorik (latihan ketrampilan fisik, sosial, dan atau intelektual) dalam suatu situasi buatan dan atau nyata dengan diikuti balikan yang spesifik dan segera.
5.      Variasi penggunaan multi metode dan multi media dalam setiap pembelajaran yang diikuti dengan keragaman bentuk dan alat dalam kegiatan pembelajaran.
6.      Kualitas interaksi antar murid dalam pembelajaran, baik aspek intelektual maupun aspek sosio-emosional, yang akan mengembangkan kompetensi sosial, utamanya kemauan dan kemampuan bekerja sama.
7.      Untuk mengamati rendah-tingginya berbagai indikator tersebut di dalam proses pembelajaran yang sedang terjadi, dapat dipergunakan suatu lembar observasi seperti ternyata pada bagan lembar observasi tersebut dapat merekam tinggi-rendahnya berbagai indikator pendekatan cbsa di dalam suatu pembelajaran yang sedang berlangsung; dengan catatan: pengamatnya haruslah pengamat ahli.























BAB 3
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat ditarik adalah sebagai berikut:
1.      Prinsip cbsa adalah tingkah laku belajar yang mendasarkan pada kegiatan-kegiatan yang nampak, yang menggambarkan tingkat keterlibatan siswa dalam proses belajar-mengajar baik intelektual-emosional maupun fisik.
2.      Indikator itu adalah gejala-gejala yang nampak dalam prilaku guru dan murid selama pembelajaran berlangsung, serta organisasi kegiatan, iklim, dan alat di dalam pembelajaran itu. Berbagai indikator penerapan pendekatan cbsa itu (t.raka joni, 1983: 22-24; dan 1985: 19-20; sulo lipu la sulo, dkk, 2002:12-13) adalah:
-        keterlibatan murid dalam pembelajaran, baik keterlibatan fisik maupun yang utama keterlibatan mental, seperti pengikatan diri (tersitanya perhatian dan pikiran) kepada tugas yang dihadapi, penyelesaian tugas secara tuntas yang melebihi dari apa yang diharapkan, tergugahnya emosi oleh suasana yang tersirat dalam pembelajaran, dsb.
-       Prakarsa murid dalam pembelajaran, seperti keberanian mengemukakan pendapat tanpa diminta, mengemukakan usul dalam penetapan tujuan dan atau cara kerja , kesediaan mencari alat serta sumber belajar tambahan, dan sebagainya.
-       Peranan guru lebih ditekankan sebagai fasilitator (penyedia dan pengelola fasilitas pembelajaran), pemantau kegiatan pembelajaran, dan selalu siap memberi balikan yang diperlukan murid (siap ulur tangan dan bukannya campur tangan, sesuai prinsip tut wuri handayani).
-       Belajar dengan pengalaman langsung (belajar eksperiensial, experiential learning). Belajar eksperiensial dalam ranah kognitif, seperti pengenalan konsep atau prinsip dilakukan dengan peragaan langsung konsep atau prinsip itu, seperti 3x2 diragakan dengan mengambil 3 kali setiap kali 2 biji. Dan pada akhirnya dilakukan kristalisasi verbal tentang konsep itu, baik secara induktif maupn deduktif. Demikian pula dengan ranah afektif (penghayatan melalui situasi nyata ataupun buatan) dan ranah psikomotorik (latihan ketrampilan fisik, sosial, dan atau intelektual) dalam suatu situasi buatan dan atau nyata dengan diikuti balikan yang spesifik dan segera.
-       Variasi penggunaan multi metode dan multi media dalam setiap pembelajaran yang diikuti dengan keragaman bentuk dan alat dalam kegiatan pembelajaran.
-       Kualitas interaksi antar murid dalam pembelajaran, baik aspek intelektual maupun aspek sosio-emosional, yang akan mengembangkan kompetensi sosial, utamanya kemauan dan kemampuan bekerja sama.
-       Untuk mengamati rendah-tingginya berbagai indikator tersebut di dalam proses pembelajaran yang sedang terjadi, dapat dipergunakan suatu lembar observasi seperti ternyata pada bagan lembar observasi tersebut dapat merekam tinggi-rendahnya berbagai indikator pendekatan cbsa di dalam suatu pembelajaran yang sedang berlangsung; dengan catatan: pengamatnya haruslah pengamat ahli.













                                                                                                                                 




DAFTAR PUSTAKA

Abimanyu  dkk, Soli . 2009. Bahan Ajar Cetak Strategi Pembelajaran 3 SKS. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Conny Semiawan, A.F.Tangyong, S.Belen, dan Yulaelawati Matahelemual.. 1985. Pendekatan Ketrampilan Proses: Bagaimana Mengaktifkan Siswa dalam Belajar. Jakarta: PT Gramedia.
Afriani Fitri (2004). Klasifikasi Strategi Pembelajaran.FKIP Universitas Abulyatama Aceh Besar



[1] Conny Semiawan, A.F.Tangyong, S.Belen, dan Yulaelawati Matahelemual.. 1985. Pendekatan Ketrampilan   Proses: Bagaimana Mengaktifkan Siswa dalam Belajar. Jakarta: PT Gramedia .
[2] Sulo Lipu La Sulo. 1990. Strategi Belajar-Mengajar pada D II Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Ujung Pandang: Panitia Penataran PKD PGSD, Proyek PTK Ditjen Dikti Depdikbud.
[3] T. Raka Joni. 1993. Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif: Acuan Konseptual Peningkatan Mutu Kegiatan Belajar-Mengajar. Jakarta: Konsorsium Ilmu Pendidikan, Ditjen Dikti Depdikbud.
[4] Sulo Lipu La Sulo. 1990. Strategi Belajar-Mengajar pada D II Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Ujung Pandang: Panitia Penataran PKD PGSD, Proyek PTK Ditjen Dikti Depdikbud.

2 komentar: